Ada orang yang kurang suka berbaris di antrian supermarket, karena dia takut dengan semua tatapan orang (atau yang dianggapnya begitu). Walaupun dia sadar betul kalau hal tersebut tidaklah selalu benar, namun dia tetap tidak bisa mengusir rasa takutnya. Dia selalu merasa kalau semua orang menatap dan mengawasi dirinya. Dan ketika giliran antriannya tiba dan dia harus berbicara dengan petugas kasir, dia mencoba untuk tersenyum, dan berbicara, namun suaranya seperti tidak bisa keluar atau pelan sekali. Dia merasa sangat bodoh dan malu. Dan saat inilah “rasa aneh” itu mencapai puncaknya

Ada juga Orang yang hanya terpaku di depan telepon yang sedang berdering. Dia sangat “tidak nyaman” untuk “hanya” mengangkat gagang telepon dan menjawabnya. Dia selalu merasa takut untuk menelpon orang lain karena ada perasaan “takut mengecewakan mereka”. Kalau ingin menelpon orang lain, selalu hadir “rasa itu” dengan dibarengi pertanyaan2, apakah sekarang waktu yg tepat untuk menelpon, jangan-jangan dia baru sibuk dan tak mau mengangkat telponku. Orang seperti ini merasa ditolak bahkan sebelum dia mulai menelpon. Ketika dia sudah selesai menelpon, dipenuhi lagi pikirannya dengan analisa-analisa, tentang pembicaraan tadi… apakah yang kukatakan tadi baik, tersinggungkah dia. Kalau ternyata memang orang ini menganggap perkataan di teleponnya tadi konyol, dia akan merasa malu kalau mengingat kejadian itu

Ada lagi orang yang kurang suka berjalan-jalan di tempat umum, dia merasa semua orang memperhatikan dirinya dari balik jendela rumah. Dan ketika dia bertemu dengan orang dan dia harus menyapanya, hal ini sangatlah sulit baginya, hampir-hampir suaranya tidak keluar, dan orang yang disapanya menyadari kalau orang ini sedang “ketakutan”. Dia selalu menghindari kontak mata dengan orang lain, dan dia kadang berharap semoga dapat sampai di rumah tanpa harus bertemu dan berbicara dengan orang lain.

Ada seorang karyawan yang kurang semangat untuk pergi ke kantor, karena dia tahu kalau besoknya akan diadakan rapat. Dia tahu kalau di rapat ini dia diharuskan untuk berbicara panjang kali lebar dengan orang lain. Hanya dengan memikirkan “dia akan berbicara di depan banyak orang” sangatlah menyiksa batinnya. Dan kadang pada malam hari sebelum rapat, dia benar-benar tidak bisa tidur. Dan akhirnya setelah rapat usai, barulah dia merasa lega. Namun ingatan tentang rapat tadi masih menggelayuti pikirannya. Lalu ada kabar kalau rapat minggu depan, bos besar akan ikut serta. Mendengar ini, kembali “perasaan aneh” tadi datang dan akan terus menetap walaupun hari H masih seminggu lagi. Dia yakin betul kalau dia akan berdiri terpaku di depan bosnya dengan wajah memerah dan lidah yang kelu, dia akan lupa apa yang akan dikatakan, dan dia tahu kalau semua orang akan menyaksikan tingkah bodohnya ini. Selama tujuh hari kedepan, hal-hal seperti ini menggelayuti pikirannya, terus.. dan terus … sperti itu.

Seorang siswa berencana bolos pada hari pertamanya masuk sekolah, karena dia tahu kalau gurunya nanti akan menyuruhnya maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri di depan teman-teman yang lainnya … dan seperti contoh di atas .. you now what will happen next… jadi dia bolos agar terhindar dari acara “siksaan” itu.

Orang dengan social phobia merasa sangat-sangat sepi, namun dia tidak mau pergi kemana-mana karena merasa sangat “nervous” untuk bertemu dan berbicara dengan orang lain. Semakin banyak orang yang ada bisa semakin memperburuk keadaan dirinya. Dia selalu bertanya-tanya, apa dia akan lancar berbicara dgn orang lain, apa nanti orang akan memandangnya sebagai orang aneh, dll. Di tempat-tempat umum, baik itu kantor, pusat perbelanjaan, jalan, orang dengan social phobia selalu merasa diawasi, ditatap, dan di”judge” (walaupun orang ini tahu kalau hal itu tidak spenuhnya terjadi). Penderita social phobia tidak pernah merasa “relax” di tempat umum. Karena perasaan ini sangatlah menyiksa, biasanya mereka memilih untuk menghindari tempat umum / suasana ramai. Orang seperti ini merasa sangat nyaman di rumah, bahkan rumah adalah satu-satunya tempat yang nyaman baginya. Ada yang bahkan sampai belasan tahun tidak pergi ke mana-mana.

Sangat sedikit penderita Social Phobia yang mengetahui kenapa dia seperti itu, dan hal ini mengakibat pada depresi yang berkepanjangan dan bahkan bahkan bisa mengarah kepada bunuh diri.

sumber: http://myquran.com/forum/showthread.php/5125-Mengenal-Social-Phobia-Social-Anxiety